admin

admin

Website URL:

Yayasan Al-Kahfi Cabang Banyumas Mensyukuri Nikmat Merdeka melalui Program Tebar Paket Pendidikan

  • Published in Berita
  • Wednesday, 20 September 2017 03:02
  • 0

Sebagai wujud rasa syukur atas nikmat kemerdekaan Republik Indonesia, pada hari minggu 20 Agustus 2017, Yayasan Al-Kahfi Cabang Banyumas menyelenggarakan kegiatan Tebar Paket Pendidikan ke Pelosok Banyumas. Pada kegiatan ini, sedikitnya 250 paket bantuan peralatan sekolah berupa seragam, sepatu dan peralatan tulis dibagikan ke sekolah-sekolah di pelosok Kabupaten Banyumas. Bantuan paket pendidikan tersebut selanjutnya akan disalurkan kepada siswa-siswi yatim-piatu dan tidak mampu namun berprestasi di kabupaten Banyumas.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh guru-guru pembimbing dan siswa-siswi penerima bantuan. Beberapa tokoh masyarakat juga tampak turut hadir dan mendukung acara ini. Diantaranya adalah, Bapak Karsono, S.E mewakili Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermasdes), Bapak Bakhtiar, S.H. mewakili Kementerian Agama, serta juga elemen Muspika yaitu; Bapak Sujarwoto, S.H., Camat Purwokerto Timur; AKP Sumadi selaku kanit Intel Polsek Purwokerto Timur; Bapak Kuspriyanto dari Koramil 01 Purwokerto.

Semangat Kemerdekaan di Al-Kahfi

  • Published in Berita
  • Friday, 25 August 2017 08:36
  • 0

 

 Di bulan agustus, gegap gempita kemerdekaan Indonesia dirayakan di seluruh pelosok negeri. 72 tahun lalu, pada tanggal 17, Indonesia memproklamirkan sebagai negara merdeka setelah sebelumnya hidup dalam bayang-bayang kolonialisme dan imperalisme. Berkat jasa para pahlawan pejuang kemerdekaan yang telah berjuang segenap jiwa, kemerdekaan itu kini dapat dirasakan seluruh anak bangsa.

METODE DAKWAH SANTUN DAN ILMIAH KUNCI KEBERHASILAN DAKWAH DI KALANGAN PELAJAR

  • Published in Seminar
  • Friday, 11 August 2017 13:12
  • 0

Metode dakwah santun dan ilmiah kunci keberhasilan dakwah di kalangan pelajar merupakan inti gagasan penyampaian K.H. Dr. Syamsul Ma’arif, M.A. dalam seminar yang bertajuk Metode Dakwah di Kalangan Pelajar, yang diselenggarakan STID Al-Hadid Yayasan Al-Kahfi pada hari Jumat, 21 Juli 2017, pukul 14.00 – 16.00. Seminar tersebut diselenggarakan sebagai medium untuk meningkatkan wawasan para dosen, asisten dosen dan mahasiswa mengenai lapangan kerja bidang dakwah, khususnya di kalangan pelajar dan remaja. K.H. Dr. Syamsul Ma’arif, M.A. sendiri selain sebagai seorang akademisi bidang dakwah, juga seorang praktisi yang kaya akan pengalaman dakwah di berbagai kalangan termasuk generasi muda. Hal tersebut salah satunya ditunjukkan dengan posisi Beliau saat ini sebagai Wakil Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Wakil Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Dalam seminar yang diselenggarakan di Hall Lantai IV Gedung STID Al-Hadid tersebut, K.H. Dr. Syamsul Ma’arif yang juga sebagai Penasehat Yayasan Al-Kahfi DKI Jakarta, tidak hanya memberikan ulasan secara teoritis, tetapi juga banyak memberikan contoh-contoh pengalaman praktis dalam dunia dakwah, dengan gaya komunikasi yang segar dan menarik. Beliau menjelaskan bahwa dakwah santun yang dimaksudkan tidak hanya terkait gaya komunikasi yang disajikan olah dai, tetapi juga bagaimana bisa merebut hati para pelajar dan guru sebagai mitra dakwah. Untuk itu pendekatan yang rasional, dialogis dan menghargai orang lain dalam dakwah perlu dikedepankan. Maka kunci sukses dakwah di kalangan pelajar adalah dengan penyampaian dakwah yang ilmiah, tanpa paksaan, tidak menjelek-jelekkan/menjatuhkan pemikiran yang berbeda, apalagi melakukan fitnah terhadap kelompok dakwah lain yang berbeda.

Dalam kesempatan tersebut, K.H. Dr. Syamsul Ma’arif juga mengapresiasi mahasiswa STID Al-Hadid Yayasan Al-Kahfi yang berani memilih pendidikan dakwah. Sebab menurut beliau profesi tersebut saat ini sangat langka, sementara kebutuhan masyarakat akan tenaga ahli bidang dakwah sangat tinggi. Beliau juga memuji semangat dakwah para lulusan STID Al-Hadid Yayasan Al-Kahfi yang saat ini telah sukses berprofesi dalam dunia dakwah. Seperti mereka yang mengemban tugas dakwah di Ibu kota, meskipun banyak hambatan tetapi akhirnya mampu mengembangkan dakwah di sana. Oleh karenanya beliau berpesan, agar para mahasiswa belajar dengan giat, sebab mereka sudah dinantikan kehadirannya di masyarakat. Seminar Ilmiah bersama K.H. Dr. Syamsul Ma’arif memberikan suatu wawasan baru dan memperkaya pemahaman lapangan dakwah para dosen, asisten dosen dan mahasiswa, sekaligus inspirasi bagi sivitas akademik STID Al-Hadid untuk terus concern dalam dunia dakwah.

seminar metode dakwah dsc08089

PERKUAT VISI ISLAM RASIONAL KEBANGSAAN

  • Published in Seminar
  • Friday, 11 August 2017 13:09
  • 0

STID Al-Hadid Yayasan Al-Kahfi kembali menyelenggarakan seminar ilmiah kebangsaan. Seminar kali ini bertajuk, Masa Depan Gerakan Islam Kebangsaan dan Tantangannya, diselenggarakan pada hari Kamis, 27 Juli 2017, mulai pukul 10.00 – 12.00 di Hall Lantai IV Gedung STID Al-Hadid. Seminar ini diikuti oleh jajaran pengurus, dosen, asisten dosen, tenaga kependidikan, staf yayasan dan para mahasiswa. Hadir sebagai pembicara utama dalam seminar tersebut adalah Profesor Masdar Hilmy, S.Ag., M.A., Ph.D. Beliau adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya dalam bidang Ilmu Sosial dan Wakil Direktur Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Gelaran seminar ini tidak lain adalah dalam rangka memperkuat visi Islam Rasional Kebangsaan, yang menjadi identitas dan corak pemikiran Keislaman yang dikembangkan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi STID Al-Hadid Yayasan Al-Kahfi. Diharapkan dengan visi Islam Rasional Kebangsaan, STID Al-Hadid Yayasan Al-Kahfi akan mampu melahirkan tenaga-tenaga profesional bidang dakwah yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berkarakter modern, ilmiah dan mencintai bangsanya.

Dalam kesempatan pertamanya, Prof. Masdar mengapresiasi apa yang dilakukan oleh civitas akademik STID Al-Hadid untuk menyelenggarakan seminar bertajuk Islam Kebangsaan. Sebab sebagai sebuah pemikiran dan gerakan sosial, Islam Kebangsaan perlu mendapat perhatian lebih dari para akademisi, salah satunya melalui penyelenggaraan seminar semacam ini. Terhadap Islam Rasional Kebangsaan, beliau merasa cocok, bahwa Islam hari ini harus didekati secara rasional dengan tetap mempertahankan nilai-nilai kebangsaan. Lebih lanjut beliau menjelaskan masa depan Islam Kebangsaan dipengaruhi tiga konteks besar, yaitu alam politik Indonesia yang lebih terbuka, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, dan negara yang semakin mengglobal. Pilihan politik Islam Kebangsaan relevan dalam konteks tersebut, bagaimana kita tetap menjadi Islam tanpa meninggalkan kearifan lokal yang dimiliki bangsa ini. Para ulama pendiri bangsa ini, telah memahami bahwa Alquran tidak mewajibkan bentuk negara tertentu, sehingga dapat bersepakat untuk hidup berlandaskan Pancasila dalam naungan NKRI. Oleh karenanya jangan pernah ragu mengambil pilihan Islam Kebangsaan karena itulah yang Islami dalam konteks Keindonesiaan.

seminar islam kebangsaan img 9946

Selain penyajian materi dan tanya jawab, acara seminar juga dimeriahkan dengan sajian hiburan dari grup musik Alkahfinita yang membawakan lagu bernuansa kebangsaan ciptaan Alkahfinita, dengan judul Indonesia Kehormatanku dan Islam Kebangsaan. Melalui sajian materi seminar, memperkuat pemahaman sivitas akademik STID Al-Hadid Yayasan Al-Kahfi dalam pilihan visi Islam Rasional Kebangsaan dan melalui sajian lagu dari AlKahfiNita memperkuat rasa dan semangat untuk terus menegakkan Islam Rasional Kebangsaan.

MEMPERKENALKAN ASSET BASED COMMUNITY-DRIVEN DEVELOPMENT (ABCD) SEBAGAI METODE PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT

  • Published in Seminar
  • Friday, 11 August 2017 13:05
  • 0

Sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia, STID Al-Hadid Yayasan Al-Kahfi terus berupaya meningkatkan kualitas pelaksanaan tri dharma yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Dalam rangka meningkatkan wawasan dan kemampuan penelitian & pengabdian masyarakat, secara berkala diselenggarakan forum peningkatan wawasan, seminar, dan pelatihan metode penelitian & pengabdian masyarakat. Untuk itulah pada hari Kamis, tanggal 15 Juni 2017, bertempat di Hall Lantai IV Gedung STID Al-Hadid, diadakanlah seminar dengan tema Mengenal Metodologi Penelitian Asset Based Communities Development (ABCD) sebagai Strategi Pengembangan Masyarakat Berbasis Penelitian. Seminar dan workshop ini diikuti oleh para dosen, assisten dosen dan mahasiswa semester akhir selaku pelaksana kegiatan penelitian & pengabdian masyarakat, dengan pembicara Dr. Abdul Muhid, M.Si. praktisi penelitian & pengabdian masyarakat serta Ketua Program Studi S2 Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Dr. Abdul Muhid, M.Si. berpengalman dalam beberapa proyek penelitian & pengabdian masyarakat yang bekerjasama dengan lembaga pemerintah. Dalam acara seminar tersebut, Beliau memperkenalkan salah satu metode baru yang dapat diaplikasikan dalam kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat yaitu Asset Based Community-Driven Development (ABCD). Metode ABCD berupaya memberdayakan masyarakat dengan mengenali aset-aset yang dimilikinya, baik yang bersifat materi maupun imateri, sebagai modal awal untuk mengembangkan masyarakat tersebut. Artinya strategi-strategi pemberdayaan dan pengembangan masyarakat didasarkan atas pemetaan aset-aset lokal yang dimiliki masyarakat, sehingga program-program penelitian & pengabdian masyarakat yang dikembangkan sivitas akademik dapat dengan mudah diterima dan sejalan dengan kebutuhan dan keadaan masyarakat setempat.

seminar abcd

Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 09.30 s.d. 13.30 terbagi dalam dua sesi, sesi pertama penyampaian materi, dan sesi kedua tanya jawab studi kasus. Sekalipun saat itu menjalankan ibadah puasa, namun sama sekali tidak mengurangi semangat dari pembicara untuk menularkan ilmunya kepada para peserta. Lebih-lebih para dosen, asisten dosen dan mahasiswa, sebagai peserta mereka juga antuasias untuk mengikuti penjelasan dan mendalami metode ABCD melalui tanya jawab studi kasus. Semoga dengan kegiatan ini dapat menjadi bekal bagi sivitas akademik STID Al-Hadid Yayasan Al-Kahfi untuk menghasilkan penelitian & pengabdian masyarakat yang berkualitas bagi bangsa.

HIMBAUAN UNTUK PENGURUS YAYASAN ALKAHFI DI PUSAT DAN DAERAH TERKAIT ACARA MENYAMBUT HARI KEMERDEKAAN

  • Published in Berita
  • Friday, 11 August 2017 06:35
  • 0

HIMBAUAN UNTUK PENGURUS YAYASAN ALKAHFI DI PUSAT DAN DAERAH

TERKAIT ACARA MENYAMBUT HARI KEMERDEKAAN

Etika Dakwah

  • Published in Berita
  • Wednesday, 02 August 2017 00:16
  • 0

etika dakwah

Hubungan Tuhan dan konsep ilmiah

  • Published in Berita
  • Saturday, 22 July 2017 15:35
  • 0

Hubungan Tuhan dan konsep ilmiah

Iskandar al-Warisy

Konsep ilmiah merupakan metode yang bisa dipertanggung jawabkan baik empiris, ilmu pengetahuan atau rasional untuk memahami sesuatu. Entah itu berkaitan dengan alam, tumbuhan, manusia atau Tuhan. Lawan dari metode ilmiah adalah metode spekulasi, yaitu suatu metode yang dibangun untuk memahami sesuatu tanpa dasar rasional atau ilmu pengetahuan. Sifatnya dugaan, ikut-ikutan, dorongan hawa nafsu dan kepentingan subyektif. Sederhananya metode ini spekulatif.

Konsep ilmiah dalam abad modern sudah menjadi suatu ideologi yang bersifat universal, pijakan untuk membangun peradaban manusia. Dunia pendidikan, penelitian, ekonomi dan berbagai pengembangan disiplin keilmuan menggunakan basis ilmiah baik filsafat, terapan maupun mesin-mesin teknologi. Suatu bangsa yang tidak menjadikan konsep ilmiah sebagai pengembangan kemajuan pasti akan tertinggal, terbelakang bahkan semakin jauh tersesat dalam jalan-jalan kegelapan, hancur tanpa mengetahui sebabnya.

Demikian juga tentang Eksistensi Tuhan. Apakah Tuhan ada atau tidak? Kalau ada seperti apa? Apakah seperti yang disampaikan oleh agama Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha dan lain sebagainya? Apakah Tuhan yang disampaikan dalam agama-agama itu berbeda atau hanya istilahnya saja yang berbeda tapi subtansinya sama? Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab dengan metode ilmiah agar menghasilkan keputusan yang bisa dipertanggung jawabkan. Kalau dalam islam, setiap suatu pemikiran atau tindakan harus memiliki pertanggung jawaban ilmu, termasuk dalam kepercayaan terhadap Tuhan. “Janganlah kamu mengikuti sesuatu tanpa ilmu pengetahuan karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungan jawab” (AQ. 17:36)

Kepercayaan terhadap Tuhan tanpa pendasaran ilmiah akan rapuh mudah terombang ambing oleh informasi baru dan sangat berbahaya. Munculnya dogmatisme, radikalisme dan terorisme bisa jadi salah satu sebabnya karena itu.

Dari dasar nilai-nilai di atas maka al-Kahfi mengajak adik-adik, yang beragama islam yang banyak mengenal Tuhannya didasarkan pada kepercayaan turun menurun, untuk mengenal Tuhan secara ilmiah. MT1 hari pertama, suatu upaya atau diskusi yang menjawab pertanyaan apakah Tuhan ada atau tidak ada. Berbagai teori dari kalangan atheisme yang memandang bahwa Tuhan tidak ada disampaikan, baik yang berdasar teori biologi, fisika, kimia dan sosial. Antithesa dari kalangan ilmuwan yang percaya Tuhan sampai pada kesimpulan bahwa “yang benar dan bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah rasional adalah Tuhan ada“

Timbul pertanyaan lagi, lalu Tuhan siapa yang benar? Karena semua agama memiliki pemahaman dan konsep tentang Tuhan, apakah konsep-konsep itu benar semua atau salah satu atau beberapa saja yang benar. MT1 hari kedua, adalah upaya menjawab dan mendiskusikan tentang itu. Menguji secara ilmiah tentang agama-agama yang memiliki konsep Tuhan. Secara ilmiah versi al-Kahfi yang benar adalah Tuhan yang disampaikan dalam al-Qur’an. Kami juga menerima dan menghargai kalau agama selain Islam menggunakan jalan ilmiah lalu menyimpulkan Tuhan dalam agama mereka yang benar. Kami yang hidup dalam alam demokrasi memandang perbedaan itu suatu kewajaran, alamiah, yang penting tidak saling menghujat dan memaksakan kehendak. Yang percaya Tuhan nya orang Islam silahkan, begitu pula mereka yang percaya Tuhan nya selain Islam juga dipersilahkan. Istilah al-Qur’an nya yaitu “Lakum diinukum waliyadiin

Demikian dasar berfikir penyelenggaraan MT1 hari pertama dan kedua, semata-mata untuk kepentingan membangun karakter ilmiah pada adik-adik di segala bidang termasuk dalam dimensi ketuhanan.

Dasar berfikir menghentikan MT1 hari kedua

  • Published in Berita
  • Saturday, 22 July 2017 15:33
  • 0

Dasar berfikir menghentikan MT1 hari kedua

Iskandar al-Warisy

Meskipun Perppu No 2 Tahun 2017 tentang larangan dan pembubaran ormas telah ditetapkan, hal ini tidaklah menimbulkan kekhawatiran bagi al-Kahfi karena merasa selama ini tidak ada undang-undang yang dilanggar, walaupun penasehat al-Kahfi dari MUI DKI sempat menyarankan agar MT1 hari kedua dipertimbangkan penyelenggaraannya, karena dapat menimbulkan salah tafsir berkaitan dengan pasal penodaan dan penistaan agama.

Kalau saya pribadi tidak khawatir, karena ada perbedaan yang jelas dan tegas antara pembahasan ilmiah dengan penghujatan, baik dari segi pendasaran, komunikasi serta tujuan yang ingin dicapai. Dalam dimensi ilmiah, tujuan yang ingin dicapai adalah mencari kebenaran, sementara penghujatan semata-mata untuk menjatuhkan dan menghinakan. Pendasaran dalam mencapai kebenaran dalam dimensi ilmiah senantiasa menekankan pada nilai-nilai ilmiah, seperti pendapat ahli, perbandingan, eksperimen serta logika, dimana prosesnya sangat ketat. Sedangkan penghujatan, pendasarannya sangat sederhana tidak ada proses pengujian, subyektif serta penuh hawa nafsu. Komunikasi dalam dimensi ilmiah sangat fokus pada masalah dan pemecahan serta santun. Sedangkan penghujatan lebih banyak pada hinaan, ejekan dan provokasi.

Buku-buku agama pada prodi keagamaan juga banyak yang membahas tentang perbandingan Tuhan dalam berbagai agama, dan selama ini tidak dilarang karena pendasarannya ilmiah. Bahkan kitab-kitab suci termasuk al-Qur’an juga banyak membahas tentang Tuhan dalam kepercayaan berbagai agama.

MT1 hari kedua yang membahas tentang Tuhan dalam berbagai pandangan keagamaan lewat studi banding, sudah berjalan sejak tahun 2000an. Selama sekira 17tahunan, dan bahkan tahun 2013 pun juga telah lahir peraturan ormas No. 17 Tahun 2013, yang melarang ormas melakukan penyalahgunaan, penistaan dan penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia (pasal 59 ayat 2b), selama ini juga tidak ada teguran sama sekali.

Lahirnya Perppu No. 2 Tahun 2017, secara larangan bagi ormas, tidak ada perbedaan dengan UU No. 17 Tahun 2013. Perbedaannya hanya pada cara memberikan sanksi. UU sebelumnya lewat peradilan, sedangkan Perpu lewat pemerintah dengan tahapan, pertama, memberikan peringatan secara tertulis, (jika tidak ada respon dan perubahan). Kedua, penghentian kegiatan dan/atau pencabutan surat keterangan terdaftar atau pencabutan status badan hukum (pasal 61). Sehingga bagi al-Kahfi hal ini tidak ada persoalan.

Sejak dibubarkannya ormas HTI, tepatnya pada tanggal 19 Juli 2017, tanpa surat peringatan lebih dahulu, sebagaimana diatur dalam Perppu No. 2 Tahun 2017, disini justru menimbulkan kekhawatiran bagi al-Kahfi berkaitan dengan MT1 hari kedua. Disamping temanya tentang perbandingan ajaran ketuhanan dalam berbagai agama, juga metode pengajarannya yang bersifat sosio drama untuk merangsang kemampuan berfikir siswa, selanjutnya pengawas dakwah terprogram sulit mengontrol instruktur dalam menyampaikan bahan pembelajaran. Disini saya teringat pesan penasehat dari MUI, MT1 hari kedua mudah disalah tafsirkan. Sekiranya masih lewat peringatan terlebih dahulu akan mudah dijelaskan dan diselesaikan.

Dari pertimbangan di atas, demi amannya dan lancarnya dakwah dan pendidikan al-Kahfi, maka pengurus menghentikan dahulu MT1 hari kedua, sambil mencari jalan pemecahan. Di antaranya dengan memberikan kurikulum yang sudah disetujui MUI pusat kepada pemerintah lewat Menteri Agama atau Menkumham.

Demikian penjelasannya menurut pengamatan saya, semoga tidak menimbulkan salah tafsir.

PENGUMUMAN

  • Published in Berita
  • Thursday, 20 July 2017 08:51
  • 0

PENGUMUMAN


Sehubungan dengan perkembangan sosial politik sekarang yang tidak menentu, adanya Perppu no 2 tahun 2017 tentang ormas, dan menimbang masukan penasehat dari Majelis Ulama Indonesia, agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat, maka pembahasan materi majelis taklim 1 tentang “Existensi Tuhan Dalam Dimensi Ilmiah pada Hari Kedua” dalam Kurikulum Dakwah terprogram Yayasan Alkahfi sejak pengumuman ini disampaikan ke publik dengan ini kami nyatakan ditiadakan sampai status hukum mengenai ormas jelas dan keadaan sosial politik kondusif kembali.

Bila di kemudian hari ada pihak pihak yang mengatasnamakan Yayasan Al Kahfi, dan atau menyatakan telah bekerja sama dengan Yayasan Al Kahfi untuk menyelenggarakan kegiatan kajian di atas, baik langsung maupun tidak langsung, maka itu sesungguhnya bukan dari kami.

Pengumuman ini kami tujukan pada daerah, cabang, seluruh kantor perwakilan yayasan alkahfi dan atau seluruh rekan kerja sama Yayasan Al Kahfi.

Demikian pengumuman ini, atas perhatiannya kami mewakili seluruh pengurus yayasan alkahfi mengucapkan terima kasih.

 

                                                          Surabaya, 20 Juli 2017

                                                                Hormat Kami,

                                                                 Ketua Umum

                                                              Yayasan Al Kahfi

 

 

                                                    Suwari S.H, M.Kom.I, Advokat

Subscribe to this RSS feed

Hubungi Kami

  • phone2016-model1

Login or Register

Facebook user?

You can use your Facebook account to sign into our site.

fb iconLog in with Facebook

LOG IN

Register

User Registration
or Cancel