Menjawab Komentar Metodologi Penyampaian Buku Program Pelajar Jakarta Berkarakter

Menjawab Komentar Metodologi Penyampaian

Buku Program Pelajar Jakarta Berkarakter

-------------------------------------------------------------

Aris Kristianto S. Ag. M.H.I : Ketua Tim Penulis Buku

      Beberapa pengamat pendidikan dan Prof. Ali Mustafa Yaqub pada acara Apa Kabar Indonesia Akhir Pekan TV one, telah menyalahkan metode penyampaian buku Program Pelajar Jakarta Berkarakter (PPJB) diantaranya:

  1. Masalah yang dijadikan bahan diskusi tidak langsung dijawab, mengakibatkan orang yang membaca tidak sampai tuntas dapat terpengaruhi pada paham atheisme/terorisme.
  2. Karena buku ini bermasalah dalam komunikasi, maka orang yang menyunting sebagian tidak bisa disalahkan.

      Pada buku Pengembangan dan Model Pembelajaran Dalam Kurikulum 2013 oleh Sofyan Amri S.Pd., menyampaikan: metode pembelajaran adalah cara yang digunakan dalam proses pembelajaran, sehingga diperoleh hasil yang optimal, adapun berbagai metode pembelajaran yang dapat digunakan pendidik dalam kegiatan pembelajaran, antara lain:

  1. Metode Ceramah
    • Penyampaian materi dari guru kepada siswa dengan melalui bahasa lisan baik verbal maupun non verbal.
  2. Metode Latihan
    • Penyampaian materi melalui upaya penanaman kebiasaan kebiasaan tertentu, sehingga siswa diharapkan dapat menyerap materi secara optimal.
  3. Metode Tanya Jawab
    • Penyajian materi pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang harus dijawab oleh anak didik, bertujuan memotivasi anak mengajukan pertanyaan selama proses pembelajaran atau guru mengajukan pertanyaan dan anak didik menjawab.
  4. Metode Karya Wisata
    • Metode penyampaian materi dengan cara membawa langsung anak didik ke obyek diluar kelas atau di lingkungan kehidupan nyata agar siswa dapat mengamati atau mengalami secara langsung.
  5. Metode Demonstrasi
    • Metode pembelajaran dengan cara memperlihatkan sesuatu proses atau suatu benda  berkaitan dengan bahan pelajaran.
  6. Metode Sosio Drama
    • Metode pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan kegiatan memainkan peran tertentu yang terdapat pada kehidupan sosial.
  7. Metode Bermain Peran
    • Pembelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan anak didik dengan cara anak didik memerankan suatu tokoh, baik tokoh hidup atau mati, metode ini mengembangkan penghayatan, tanggung jawab dan terampil dalam memaknai materi yang dipelajari.
  8. Metode Diskusi
    • Metode pembelajaran melalui pemberian masalah kepada siswa dan siswa diminta memecahkan masalah secara kelompok.
  9. Metode Pemberian Tugas dan Resitasi
    • Merupakan metode pembelajaran melalui pemberian tugas kepada siswa dan melaporkannya  kepada guru.
  10. Metode Eksperimen
    • Pemberian tugas kepada siswa untuk melakukan percobaan.
  11. Metode Proyek
    • Membahas materi pelajaran ditinjau dari sudut pandang pelajaran lain.

      Menurut beliau, metode pembelajaran mata pelajaran di sekolah tidak tunggal, adapun yang masih bisa ditoleransi adalah metode di atas. Sebenarnya masing-masing metode memiliki teknik dan tujuan yang tidak sama, dalam penerapannya tergantung dari kondisi siswa, kemampuan guru, laboratorium, dan finansial sekolah.

      Dalam buku Program Pelajar Jakarta Berkarakter, telah menyebutkan bahwa metode pembelajarannya menggunakan Sosio Drama, siswa memainkan peran sebagai remaja muslim yang harus menghadapi tantangan pemikiran dari teori Atheisme, sementara instruktur memainkan peran seperti orang komunis, sebelum diskusi siswa diberitahu bahwa sistem ini untuk menguji keilmiahan generasi muda Islam dalam mempertahankan keimanannya, nanti setelah sesi akhir  akan diberitahukan jawabannya. Instruktur tetap memperkenalkan diri sebagai seorang Muslim, untuk menanamkan kesan kepada siswa bahwa  diskusi ini antar sesama Muslim  sehingga tidak sampai menimbulkan ketakutan terhadap eksistensi keimanannya.  

      Saya memilih menggunakan pendekatan sosia drama, karena dua hal, pertama, merupakan metode pembelajaran yang sudah masuk dalam kurikulum 2013, kedua, metode ini dapat:

  1. Merangsang siswa untuk berpikir dan memecahkan masalah.
  2. Melahirkan kemandirian siswa dalam berpikir.  
  3. Menimbulkan keberanian siswa menyampaikan gagasan ke orang lain.
  4. Punya pengalaman diskusi.
  5. Menyadari nilai-nilai berpikir ilmiah/rasional.
  6. Menguatkan keimanan siswa dari rongrongan teori Atheisme.

      Dilihat dari sosio-lingkungan, banyak sekali siswa dalam mendapatkan keimanan atau kepercayaan kepada Allah berangkat dari tradisi keluarga, orang tua, dan lingkungan sekitarnya, dimana aspek pertanggungjawaban ilmiah kurang menjadi perhatian, generasi muda seperti ini akan mudah dikafirkan oleh orang-orang Atheisme. Dengan metode sosio drama, dasar kepercayaan yang bersifat tradisi pada siswa akan dibongkar menjadi keimanan yang ilmiah di dasarkan ilmu pengetahuan.

      Metode ceramah atau metode tanya jawab, seperti yang disampaikan oleh Prof. Ali dan Ibnu Hamad, tidak mampu merangsang siswa berpikir dalam memecahkan masalah atau menciptakan kemandirian, dan keberanian siswa menyampaikan gagasan dan pengalaman diskusi, sistem itu akan  membuat siswa pasif, hanya mampu mendengarkan saja, ia hanya paham secara informasi tekstual.  Kalau alasannya buku ini sangat berbahaya jika dibaca secara parsial, menurut saya, itu hanya dilebih-lebihkan saja, bagi orang terdidik, kalau belum selesai membaca, tentunya tidak berani memberikan kesimpulan, kalau dipaksakan pasti tidak mewakili dan menimbulkan masalah. Pada sisi lain yang perlu dipahami, buku ini bukan untuk publik melainkan pegangan instruktur dalam training spiritual dan emosional, sehingga tidak ada di pasaran. Otomatis tidak perlu ada kekhawatiran masyarakat yang membaca sebagian.

      Demikian bantahan kami, semoga ada manfaatnya bagi publik, terima kasih.

 ------------------------------------------------------


Komentar Siswi SMKN 3 Jakarta terhadap kegiatan Al Kahfi

Diambil dari wawancara TV One program "Sorotan Kasus" 10 September 2015 Wawancara langsung dengan Indah, siswi SMKN 3 Jakarta
"Saya sudah ikut kegiatan Al Kahfi selama 3 tahun terakhir ini. Selain itu saya juga aktif di Rohis, di situ saya mendapat nilai-nilai religiusitas. Saya juga ikut ekskul KIR, di situ saya mendapatkan nilai-nilai berpikir ilmiah memecahkan persoalan. Dan di Al Kahfi, saya mendapatkan nilai keduanya".

 

 Komentar Guru PAI SMA 5 Malang terhadap kegiatan Al Kahfi

guru-edit

"Teman-teman dari Al-Kahfi ini membantu adik-adik remaja untuk lebih memahami agama secara kritis dialogis. Melalui kegiatan ESA adik-adik banyak diajak diskusi secara terbuka untuk memahami ajaran agama. Ajaran agama tidak sekadar dipahami secara dogmatis lepas dari pemahaman yang bersifat rasional kontekstual. Sesuai dengan konteks cara berpikir remaja dan kegairahan mereka yang tengah berkembang intelektualitasnya.

Cara belajar yang lebih kritis dialogis ini cukup dapat membekali adik-adik remaja untuk tidak mudah menerima ajaran agama yang diajukan secara eksklusif. Mereka belajar juga untuk toleran, terbuka, inklusif terhadap berbagai corak pemahaman agama. Di samping yang lebih penting yaitu membiasakan adik-adik remaja untuk menjadi pribadi yang santun dalam menjalankan ajaran agamanya".

Guruh Salafi. S.Pd.I., M.Pd.
Guru Pendidikan Agama Islam
SMA Negeri 5 Malang

Last modified onSaturday, 12 September 2015 00:56
Rate this item
(60 votes)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

back to top

Hubungi Kami

  • phone2016-model1

Login or Register

Facebook user?

You can use your Facebook account to sign into our site.

fb iconLog in with Facebook

LOG IN

Register

User Registration
or Cancel